Subscribe via email

Yuk! Berlanggan disini, masukan saja E-Mail kamu di bawah ini GRATIS.

Selasa, 24 Agustus 2010

Abu Ubaidah si pemberani yang dermawan. Part II.

sahabat nabi. Sahabat rasul. Kisah para sahabat. Sejarah islam. Cerita islami. Syirah sahabat

Kisah tentang Sahabat dekat Rasulullah Saw, yang juga termasuk ke dalam 10 Sahabat yang di jamin langsung masuk syurga ini belum semuanya kelar, dari judulnya aja kan udah ke tauan, nah bagi akhy yang belum sempet baca part pertamanya silakan Visit disini. Kalau yang udah baca, langsung aja deh kita ke TKP.

Selanjutnya pada masa ke Khalifaham Abu Bakar As Siddiq nih, Abu Ubaidah bin Jarrah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar As Siddiq kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Beliau hingga di masa ke Khalifahan Umar bin Khattab. Tak lama kemudian Umar bin Khattab mengangkatnya sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.

Suatu ketika, Umar bin Khattab sedang berkunjung ke Syam ketika itu Abu Ubaidah bin Jarrah masih menjabat sebagai gubernur Syam. Syaidina Umar meminta kepada Abu Ubaidah untuk mengajaknya ke kediamanan Abu Ubaidah, Syaidina Umar Bin Khatab berkata,

    “Abu Ubaidah, bolehkah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar bin Khattab.

    “Untuk apakah engkau datang ke rumahku wahai Amirul 'mukminin? Sesungguhnya aku takut engkau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.” Jawab Abu Ubaidah bin Jarrah.


Karena Syaidina Umar bin Khattab memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah bin Jarrahpun mengizinkannya berkunjung ke rumahnya.

Setelah sampai di rumah Abu ubaidah, Umar Bin Khatab terkejut melihat rumah Sang Gubernur Syam, yang isinya kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.

    “Wahai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur? Dan Adakah kau memiliki
    makanan?” tanya Umar bin Khattab.


Abu Ubaidah bin Jarrah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang ada didalamnya. Umar bin Khattab pun tak kuasa meneteskan air matanya melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah bin Jarrah pun berujar.

    “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.”

    “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.” Umar Bin Khatab pun berujar.


Setelah pulang dari Syam, suatu ketika Umar bin Khattab mengirimi uang kepada Abu Ubaidah bin Jarrah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepadanya, bahwa Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu, kepada para pakir miskin. Umar bin Khattab pun berkata,

    “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.”


Abu Ubaidah meninggal pada tahun 18 Hijriyah, Beliau meninggal ketika sedang memimpin pasukan ke Jordania. Di jordania Beliau dan seluruh pasukannya tinggal Amwas. Ketika mereka tinggal disana, mereka terjangkit penyakit kusta.

Umar bin Khattab yang mengetahui hal itu, beliau langsung menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Jarrah yang isinya,


"Sungguh saya memiliki sesuatu yang sangat penting dan saya sangat membutuhkanmu, maka segeralah menghadap saya"


Setelah Abu Ubaidah membaca surat itu, beliau menyadari bahwa yang diinginkan dari Umar bin Khattab menyelamatkan nyawanya dari penyakit kusta tersebut, maka baliau mengingatkan Umar bin Khattab dengan sabda Rasulullah saw :

    “Penyakit kusta merupakan bagian dari syahadah bagi kaum muslimn”. (Muttafaqun‘alaih).


Lalu beliau menulis surat balasan dan berkata di dalamnya,

"sesungguhnya saya sudah mengetahui kebutuhanmu, maka saya telah mencari solusi dari kehendakmu itu, sesungguhnya saya seorang prajurit dari pasukan kaum muslimin, saya tidak sudi berpisah dengan mereka."

Maka ketika Umar bin Khattab membaca surat beliau langsung menangis, dan dikatakan kepadanya,

"apakah Abu Ubaidah telah meninggal??" para sahabat bertanya kepada Umar bin Khatab.

Beliau berkata, “tidak, tapi seakan-akan dia sudah meninggal." (Al-Hakim).

Kemudian Amirul mu’minin kembali menulis surat untuknya dan memerintahkannya untuk pergi meninggalkan kota Amwas ke tempat yang disebut Al-Jabiyah, hingga semua pasukan tidak meninggal karenanya, lalu Abu Ubaidahpun mengikuti perintah Amirul mukminin, namun beliau tetap
terserang penyakit kusta.

Kemudian beliau mewasiatkan kepada Mu’adz bin Jabal untuk memimpin pasukan, dan setelah itu beliau wafat sedang umurnya 58 tahun, beliau dishalatkan oleh Mu’adz bin Jabal, dan di kebumikan di desa Baisan, Syam.


Jika merasa Artikel ini bermanfaat,
bagikan artikel ini ke teman Anda lewat tombol di bawah ini »
Bookmark and Share


Mungkin Mau Baca Lagi Yang Ini :



Comments :

0 komentar ke “Abu Ubaidah si pemberani yang dermawan. Part II.”




Apa Pendapat Anda ?...

Grafik



feedburner
website hit counter

BASECAMP RHOEDAL

perkuat tali persahabatan kita dengan bergabung di forum BASECAMP RHOEDAL, forum berbagi belajar, dan senang-senang!!!!......
 

Copyright © 2010 by IRAN | Ikatan Remaja Amaliyah Nurul Huda

Template by Blog Tempate 4 U | Blogspot Tutorial | Edit Template By RHOEDAL