Subscribe via email

Yuk! Berlanggan disini, masukan saja E-Mail kamu di bawah ini GRATIS.

Minggu, 08 Agustus 2010

Perubahan arah kiblat

Perubahan arah kiblat, masjidil haram, kiblat sholat

Beberapa tahun terakhir di indonesia sering sekali terjadi gempa bumi dan ada pula yang menimbulkan tsunami, sehingga terjadi pergeseran pada lempeng bumi yang berakibat bergesernya arah kiblat di indonesia.

Lalu apakah yang dimaksud dengan Kiblat? Secara literal, kiblat berarti arah dari pemusatan perhatian. Adapun arti Kiblat dalam Islam adalah arah menghadapkan wajah ketika mengerjakan shalat. Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Baqarah Ayat 115,
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, kemanapun kamu menghadap disitulah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat- Nya) lagi Maha Mengetahui".
Sepertinya, ayat ini menerangkan bahwa tidak ada arah tertentu yang perlu ditetapkan untuk menyembah kepada-Nya. Jika tidak diperlukan arah secara lahiriah, maka setiap orang bisa menghadapkan wajahnya kemanapun ketika dia mengerjakan shalat. Adakah hikmah dibalik penetapan Kiblat? Sebagaimana kita ketahui, ibadah puasa dan dzikrullah adalah ibadah individu. Adapun Shalat dan Haji adalah ibadah yang dikerjakan secara berjama’ah.
Dalam penetapan Kiblat terkandung makna penegasan dan pengajaran tata-cara dan tata-krama (etika) suatu dinamika kelompok. Prinsip terpenting untuk mencapai kesatuan dan kesetia-kawanan kelompok adalah dengan penyatuan arah pandangan yang menafikkan pengelompokan atas dasar kebangsaan, rasialisme, kesukuan, asal wilayah, bahasa, maupun asal negara.

Agama Islam adalah agama semua Nabi. Maka, satu-satunya penegasan bahwa semua Nabi hanya mengajarkan satu ajaran (yakni, Tauhid) adalah dengan penetapan sebuah ‘Titik-Arah’ Peribadatan. Kiblat yang tunggal untuk semua orang di seluruh penjuru dunia melambangkan kesatuan dan keseragaman diantara mereka.

Perubahan arah kiblatKa'bah sebagai pusat kiblat

ketika Adam AS sampai ke bumi, pondasi Baitullah (Ka’bah) telah diletakkan oleh para malaikat. Kiblat untuk Nabi Adam AS dan keturunannya adalah Ka’bah yang bentuknya masih sangat sederhana ini. Allah SWT berfirman didalam Surat Ali ‘Imran ayat 96 :
Sesungguhnya, rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat ibadah) manusia, adalah Baitullah di Makkah yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semesta alam. Setiap insan mengikuti ketentuan Kiblat sehingga sampai pada masa Nabi Nuh AS, dimana pada waktu itu Ka’bah ikut hancur diterjang banjir besar. Sekian waktu berselang, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun ulang Ka’bah atas perintah dan bimbingan langsung dari Allah SWT, kemudian menjadi Kiblat bagi mereka dan para pengikutnya. Setelah itu, Al-Quds (Baitul-Maqdis/Masjidil- Aqsa) ditetapkan sebagai Kiblat untuk para Nabi dari Bani Israil.

Dikisahkan oleh Al-Qurthubi, ketika shalat telah diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin, semula arah Kiblat sama seperti semasa leluhur beliau, Nabi Ibrahim AS. Allah SWT memerintahkan agar beliau menghadapkan wajah ke Al-Quds. Rasulullah SAW biasa melakukan dengan berdiri diantara Hajar Aswad dan Rukun Yamani, sehingga Baitullah dan Baitul-Maqdis, dua-duanya, berada didepan beliau. Menurut hadits Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW mengerjakan shalat dengan Kiblat Al-Quds selama sekitar 16 atau 17 bulan sewaktu di Madinah.Namun demikian beliaupun berharap bahwa Kiblat hendaknya sama seperti semasa Nabi Adam AS dan Nabi Ibrahim AS. Adapun Allah SWT Maha Mengabulkan harapan insan-insan pilihan-Nya. Oleh karena itu Rasulullah SAW sangat berharap bahwa keinginan beliaupun dikabulkan Allah SWT. Berkali-kali beliau berdoa mengharapkan turunnya wahyu perihal Kiblat. Dan, Allah SWT pun berfirman didalam Surat Al-Baqarah Ayat 144 :

Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. …

Dengan diturunkannya wahyu ini, Allah SWT mengabulkan keinginan Rasulullah SAW. Selanjutnya, perhatikanlah kata ‘syathra’ dalam ayat tersebut berarti bahwa orang-orang di negara lain bilamana melaksanakan shalat hendaklah berusaha sebaik-baiknya untuk menghadapkan wajah ke arah masjidil-haram, namun tidak perlu harus persis ke arah bangunan Ka’bah.

Dari penjelasan diatas dapat kita arti kan bahwa sesungguhnya perubahan arah kiblat yang kita alami akibat pergeseran lempeng bumi ini tidak serta merta harus merubah bangunan masjid persis kearah ka'bah hanya shaf nya saja yang di arahkan ke arah kiblat, seperti yang di tegaskan ketua MUI Bapak Amidhan Shabaren, "tidak perlu di rombak, shafnya saja yang perlu di luruskan".


Jika merasa Artikel ini bermanfaat,
bagikan artikel ini ke teman Anda lewat tombol di bawah ini »
Bookmark and Share


Mungkin Mau Baca Lagi Yang Ini :



Comments :

0 komentar ke “Perubahan arah kiblat”




Apa Pendapat Anda ?...

Grafik



feedburner
website hit counter

BASECAMP RHOEDAL

perkuat tali persahabatan kita dengan bergabung di forum BASECAMP RHOEDAL, forum berbagi belajar, dan senang-senang!!!!......
 

Copyright © 2010 by IRAN | Ikatan Remaja Amaliyah Nurul Huda

Template by Blog Tempate 4 U | Blogspot Tutorial | Edit Template By RHOEDAL