Subscribe via email

Yuk! Berlanggan disini, masukan saja E-Mail kamu di bawah ini GRATIS.

Sabtu, 04 September 2010

Hukum wanita yang haid masuk masjid

wanita haid. Masjid dan wanita haid. Hukum haid.

Menyangkut wanita haid masuk ke masjid, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik dan pengikutnya tidak memberi peluang sedikit pun bagi mereka untuk memasukinya. Imam Syafi'i dan sekian banyak ulama lain hanya membolehkan wanita haid untuk sekadar berlalu bukan menetap, sedangkan Imam Dawud azh-Zhahiri membolehkannya. Ini bertitik tolak dari pemahaman mereka atas firman Allah dalam QS An-Nisa' : 43. serta penilaian
mereka terhadap beberapa hadits Nabi saw. Berikut surat An-Nisa' : 43.
hukum haid, penjelasan tentang haid

Artinya :
    "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun"


Ada ulama yang menyisipkan kata tempat antara kata 'mendekati' dan kata 'shalat' sehingga, bagi mereka, ayat tersebut bermakna 'Jangan mendekati tempat salat, kecuali sekadar berlalu, dan seterusnya.' Ada juga yang tidak menyisipkan kata apa pun dan memahami kata 'berlalu' dalam arti "orang musafir yang tidak mendapatkan air". Sehingga ini berarti bahwa orang junub dalam keadaan musafir boleh bertayamum untuk shalat. Ayat ini bagi mereka tidak dapat dijadikan alasan untuk melarang seorang pun yang junub berada di dalam masjid.

Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang junub boleh duduk di dalam masjid setelah dia berwudhu. Ini tentu untuk sekadar duduk, bukan salat. Seperti terbaca, ayat di atas berbicara tentang yang junub yakni yang tidak suci akibat berhubungan seks atau keluar sperma, sedangkan yang haid tidak termasuk di dalam pengertian tersebut. Namun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa haid lebih berat daripada junub sehingga kalau yang junub saja telah dilarang, tentu apalagi yang haid. Ini dikuatkan juga oleh beberapa hadits Nabi saw, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Ummu Salamah bahwa Nabi Saw menyampaikan dengan suara keras,

    "Masjid tidak dibenarkan (untuk dikunjungi) oleh yang haid atau junub."


Berkaitan dengan pertanyaan di atas, saya tekankan bahwa penghormatan pada masjid menuntut kita melaksanakan tuntunan di atas. Namun, kalau ada kebutuhan yang amat mendesak, agaknya di serambi masjid dapat dibenarkan.

Pandangan penulis ini, yaitu "kebutuhan mendesak tersebut", sekaligus dikuatkan oleh pandangan sementara ulama yang membolehkan wanita haid masuk ke masjid, ditambah lagi ada yang memahami larangan ini hanya berlaku khusus untuk Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi. Bahkan, seperti tulis asy-Syaukani dalam bukunya Nail al-Authar,

    "Larangan ini disebabkan oleh kekhawatiran terjadinya sesuatu (terhadap kebersihan masjid) dari yang haid. Pendapat tersebut dianut oleh (sahabat Nabi) Zaid bin Tsabit" (lihat Nail al-Authar, jilid. I, hlm. 249).


Dan tentunya bila tidak ada lagi kekhawatiran, maka dalam pandangan sahabat Nabi ini, wanita yang haid dapat ditoleransi untuk duduk di serambi masjid.

wallahu a'lam.

Sumber : Detik.com


Jika merasa Artikel ini bermanfaat,
bagikan artikel ini ke teman Anda lewat tombol di bawah ini »
Bookmark and Share


Mungkin Mau Baca Lagi Yang Ini :



Comments :

0 komentar ke “Hukum wanita yang haid masuk masjid”




Apa Pendapat Anda ?...

Grafik



feedburner
website hit counter

BASECAMP RHOEDAL

perkuat tali persahabatan kita dengan bergabung di forum BASECAMP RHOEDAL, forum berbagi belajar, dan senang-senang!!!!......
 

Copyright © 2010 by IRAN | Ikatan Remaja Amaliyah Nurul Huda

Template by Blog Tempate 4 U | Blogspot Tutorial | Edit Template By RHOEDAL