Abu Nawas, Memindahkan istana ke atas gunung | IRAN | Ikatan Remaja Amaliyah Nurul Huda

Abu Nawas, Memindahkan istana ke atas gunung

kisah seribu satu malam. Cerita abu nawas. Kisah abu nawas. Sultan harun al-rasyid. Dongen abu nawas. Sejarah abu nawas. abu nawas Dan raja.

Baginda raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan raja Sulaiman yang mampu memerintahkan para jin untuk memindahkan singgasana satu Bilqis di dekat istananya. Tiba-tiba baginda merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya di pindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukanlah hal itu tidak mustahil di lakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negrinya.

Tanpa membuang waktu Abu Nawas segera di panggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Setelah Abu Nawas di hadapkan, baginda berkata :

    "Sanggupkah engkau memindahkan istanaku keatas gunung agar aku dapat lebih leluasa melihat pemandangan negri ku?" tanya baginda sambal melirik reaksi Abu Nawas.


Abu Nawas tidak langsung menjawab ia berfikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak titah baginda, kecuali kalau memang mau di hukum. Akhirnya dengan terpaksa Abu Nawas menyanggupi titah baginda tersebut. Tapi ada satu lagi perintah dari baginda, pekerjaan itu harus selesai selama 30 hari.

Abu Nawas pulang dengan hati gelisah. Hampir setiap malam ia hanya berteman bulan, hari-hari di lewati dengan ke gundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas dari pada hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah kulana.

Keesokam harinya Abu Nawas menuju istana, ia menghadap baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati baginda akan mendengarkan apa yang di inginkan oleh Abu Nawas.

    "Ampun tuanku, hamba kesini hanya untuk mengajukan usul agar memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas.
    "Apa usul itu?"
    "Hamba akan memindahkan istana paduka yang mulia tepat pada hari raya Idul Qurban yang kebetulan kurang dari 20 hari lagi."
    "Kalau hanya usul mu begitu, baiklah." kata baginda.
    "Satu lagi baginda yang mulia." Abu Nawas menambahkan.
    "Apa lagi?" tanya baginda.
    "Hamba mohon baginda menyembelih 10 ekor sapi yang gemuk-gemuk untuk di bagikan kamipun kepada pakir miskin" kata Abu Nawas.
    "Usul mu aku terima." kata baginda menyetujuinya.


Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana baginda raja. Jangankan ke puncak gunung, kedasar samudrapun Abu Nawas sanggup.

Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar masyarakat yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas tidak pernah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang di bebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas Kali ini.

Saat-saat yang dinantikan telah tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan shalat Idul Adha, sepuluh sapi sumbangan bagioda raja di sembelih lalu di masak kemudian segera di bagikan kepada pakir miskin.

Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana di ikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada baginda raja,

    "Ampun tuanku yang mulai, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?"
    "Tidak ada." jawab baginda raja singkat.


Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. Ia berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang di tunggu. Lama juga Abu Nawas berdiri mematung. Akhirnya baginda raja tidak sabar juga dan bertanya kepada Abu Nawas.

    "Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?" tanya baginda.
    "Hamba sudah siap sejak tadi baginda." kata Abu Nawas.
    "Apa maksud mu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?" tanya baginda, yang masih di liputi rasa penasaran.
    "Hamba menunggu istana paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk di letakan diatas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana paduka yang mulia keatas gunung sesuai dengan titah paduka."


Baginda Raja Harun Al-Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas Masih bisa keluar dari lubang jarum.

Subscribe to receive free email updates: