Abu Nawas, Memeras si pemeras | IRAN | Ikatan Remaja Amaliyah Nurul Huda

Abu Nawas, Memeras si pemeras

cerita abu nawas. Kisah abu nawas dengan. Dongeng abu nawas dengan.Sejarah abu nawas dengan. Cerita lucu. Humor sufi.

Sudah menjadi aturan bagi siapa saja semen negeri yang membawa berita untuk baginda, maka ia akan mendapat hadiah yang banyak asalkan berita itu menyenangkan hati baginda. Namun tidak semua orang berani begitu saja membawa berita dan menyampaikan kepada baginda raja mengingat hukuman yang akan di timpakan bila ternyata berita itu tidak berkenan di hati baginda.

Abu Nawas yang di kenal sebagai manusia dengan segudang ide bermaksud ke istana untuk menyampaikan sebuah berita yang amat menarik. Abu Nawas yakin bahwa sesuatu yang akan di sampaikan kepada baginda amat jarang di ketahui orang, termasuk juga baginda raja sendiri.

Di suatu pagi yang cerah Abu Nawas berangkat sendirian menuju istana. Tetapi semuanya tidak seperti yang di bayangkan semula. Ternyata ia harus berhadapan dengan penjaga yang mengawal pintu gerbang istana. Penjaga itu yakin bahwa Abu Nawas adalah orang yang paling bereak di negeri itu. Dari itu tak mungkin berita yang di bawa Abu Nawas tidak mampu menyenangkan hati baginda. Kalau Abu Nawas tidak yakin berita yang di bawanya membuat baginda raja gembira maka tak mungkin ia berani ke istana. Penjaga itu dengan berlagak acuh tak acuh berkata kepada Abu Nawas.

    "Wahai Abu Nawas, engkau akan ku izinkan masuk asalkan emitat berjanji terlebih dahulu kepadaku"
    "Janji apa?" Abu Nawas pura-pura tidak mengerti.
    "Engkau harus berjanji kepadaku bahwa apapun hadiah yang engkau terima harus di bagi sama rata denganku." kata penjaga pintu gerbang istana.
    "Baiklah," kata Abu Nawas jengkel.


setelah Abu Nawas menjanjikan separuh hadiah yang akan di terimanya dari baginda barulah penjaga itu mengijinkan Abu Nawas masuk. Kejengkelan Abu Nawas terhadap penjaga yang culas itu berubah menjadi dendam yang berkobar-kobar. Abu Nawas ingin memberi pelajaran kepada penjaga itu.

Mengetahui yang datang itu Abu Nawas baginda raja merasa senang. Rasa senang menyeruak sampai ke lubuk hati sang baginda. Setelah Abu Nawas menyampaikan berita yang amat langka dan jarang di ketahui oleh manusia, baginda raja pun merasa puas. Memang belum pernah baginda memikirkan sesuatu sejauh itu, apalagi mendengarnya. Baginda merasa seolah-olah ia telah menjadi orang yang paling beruntung di dunia.

    "Wahai Abu Nawas, kali ini tentukanlah sendiri hadiah yang engkau inginkan." kata baginda dengan wajah yang ceria.
    "Terima kasih, paduka junjungan hamba. Bila hamba di perkenankan memilih hadiah maka hamba meminta seratus cambukan." kata Abu Nawas tanpa di sangka-sangka.


Tentu saja baginda raja merasa kaget dan heran. Dalam hati baginda bertanya-tanya mengapa Abu Nawas meminta seratus kali lecutan sebagai hadiah. Tetapi baginda yakin bahwa Abu Nawas pasti mempunyai maksud tertentu di balik itu. Dari itu baginda memanggil algojo dan berperan jangan terlalu keras mencambuk Abu Nawas.

Algojo sudah siap dengan cambuk di tangan. Abu Nawas di persilakan maju. Dengan pesan dari baginda, algojo itu mencambuk Abu Nawas dengan pelan. Tepat pada hitungan ke lima puluh Abu Nawas berteriak.

    "Berhenti!!!!"

Baginda kaget. Beliau bertanya kepada Abu Nawas.
    "Wahai Abu Nawas mengapa engkau meminta hukuman cambuk di hentikan. Bukankah engkau sendiri yang memintanya?" kata baginda belum mengerti.
    "Paduka yang mulia, sebenarnya polaha pintu gerbang istana melarang hamba masuk kecuali hamba mau berjanji membagi sama rata hadiah apapun yang akan hamba terima. Kini hamba mohon sisa hukuman itu di bebankan kepada pengawal pintu gerbang itu. Wahai paduka yang mulia." kata Abu Nawas menjelaskan.


Bukan kepalang murka baginda. Pengawal itu segera di panggil masuk. Baginda berpesan kepada algojo itu untuk melanjutkan hukuman lecut kepada pengawal yang dzalim itu dengan sabetan yang keras. Maka dengan senang hati algojo itu melaksanakan titah baginda sehingga tidak mengherankan pengawal itu hampir pingsan.

Dendam Abu Nawas terbalas. Tetapi ia masih belum puas karena seharusnya ia menerima hadiah dari baginda. Hari berikutnya Abu Nawas menemui pengawal itu dan berkata,

    "Tahukah engkau apa yang bisa aku lakukan terhadap dirimu kapanpun aku mau?" ancam Abu Nawas.
    "Tidak." jawab pengawal itu ketakutan.
    "Karena engkaulah aku tidak membawa hadiah apa-apa kecuali lecutan. Kalau engkau tidak mau mengganti hadiah yang semestinya aku terima maka aku akan mengadukan kepada baginda bahwa engkau begini dan begitu." kata Abu Nawas tidak main-main.


Karena takut maka pengawal itu bersedia menjual ladang hasil kecurangannya di masa lalu. Selanjutnya ia memohon kepada Abu Nawas agar tidak mencelakakan dirinya lagi.

Subscribe to receive free email updates: