Surat dari syurga | IRAN | Ikatan Remaja Amaliyah Nurul Huda

Surat dari syurga


surat dari surga, artikel tentang bayi aborsi, artikel sedih bayi korban aborsi
SURAT DARI SURGA (ditulis oleh Bayi Perempuan korban Aborsi

Mama sayang, Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan. 
Ia mengasihiku dan 'menangis' bersamaku sebab pedih pilu hatiku. 
Begitu ingin aku menjadi putri mungil mu.

Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi. 
Aku begitu bergairah ketika mulai Menyadari keberadaanku. 
Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman. 
Aku melihat aku punya jari-jari dan jempol.

Aku cantik seturut perkembanganku, tapi belum siap meninggalkan tempatku. 
Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan berpikir atau tidur. 
Bahkan sejak hari-hari pertamaku, aku merasakan ikatan istimewa antara engkau dan aku.

Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku menangis bersamamu. 
Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku menangis. 
Aku dengar Papa memaki balik. Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik kembali. 
Aku heran mengapa engkau begitu sering menangis.

Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang hari. Pilu hatiku karenanya. 
Tak dapat kubayangkan engapa engkau begitu berduka. 
Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan terjadi. 
Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat hangat dan nyaman di mana aku berada. 
Aku sangat takut, aku mulai menjerit, tapi tak sekalipun engkau berusaha menolong. 
Mungkin engkau tak pernah mendengarku........

Monster itu semakin lama semakin dekat sementara aku terus berteriak,
"Mama, Mama, tolong aku.....,
Mama......tolong aku."
Suatu teror yang ngeri aku rasakan. 
Aku berteriak dan berteriak....... hingga tak sanggup lagi.
Lalu monster itu mulai mencabik lenganku.
Sungguh sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat kuungkapkan dengan kata. 
Monster itu tidak berhenti.
Oh....bagaimana aku harus mohon agar ia berhenti. Aku menjerit sekuat tenaga
sementara ia mencabik putus kakiku.

Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat. 
Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu atau mendengarmu membisikkan betapa engkau mengasihiku.
Aku ingin menghapus butir-butir air matamu. 
Aku punya begitu banyak rencana untuk membuatmubahagia, 

Mama....Tapi aku tak dapat. Mimpi-mimpiku musnah sudah. 
Walau menanggung sakit tak terperi pedih dan pilunya hati kurasakan melampaui segalanya. 
Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu. 
Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa dalam sengsara tak terkatakan.
Hanya hal-hal buruk yang terlintas di benakku.

Begitu ingin aku mengatakan bahwa aku mengasihimu,
sebelum aku pergi. Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat engkau mengerti. 
Dan segera saja, aku tak lagi punya napas untuk mengatakannya, aku mati.

Aku merasa diriku terangkat, 
Seorang malaikat besar membawaku ke suatu tempat yang besar dan indah. 
Aku masih menangis, tapi segala rasa sakit tubuhku sirna sudah.
Malaikat membawaku kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan Nya.

Tuhan mengatakan bahwa Ia mencintaiku. Lalu, aku merasa bahagia. 
Kutanya pada-Nya, apa itu yang membunuhku. Jawab-Nya, "Aborsi, 
Aku menyesal, karena Aku tahu bagaimana ngeri rasanya."
Aku tidak tahu apa itu aborsi; 
Aku pikir mungkin nama monster itu. 
Aku menulis untuk mengatakan betapa aku mengasihimu...... 
Dan mengatakan padamu betapa ingin aku menjadi putri mungilmu.

Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup, aku ingin hidup......!
Kuat keinginanku, tapi aku tak mampu; monster itu terlalu kuat...
Dicabik-cabiknya lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh tubuhku.....
Tak mungkin bagiku untuk hidup. 
Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal bersamamu. 
Aku tidak mau mati!

Juga Mama, berhati-hatilah terhadap monster bernama aborsi itu. 
Mama aku mengasihimu.....
Aku sedih engkau harus menanggung rasa sakit seperti yang kualami.
Berhati-hatilah Mama,
Peluk cium, Bayi Perempuanmu.........

Sahabat, saya sangat sedih ketika membaca cerita ini. Saya yakin andapun juga.
Saya memiliki data, walaupun data lama, yakni ” Setiap tahunnya sekitar 150 ribu anak di bawah 18 tahun terjebak jadi pelacur. Dan, 4% kasus kehamilan remaja lebih banyak terjadi pada remaja putri di bawah 18 tahun dan 7% pada remaja putri di bawah 16 tahun. Sementara sebanyak 43,1% gadis berusia di bawah 18 tahun melakukan aborsi ” (Guntoro Utamadi, staf Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di harian Kompas 1997) Itu tahun 1997,

Entahlah apakah dari tahun ke tahun semakin naik ataukah semakin turun. 
Tapi hati kecilku mengatakan semakin naik. Ah, semoga itu hanya prasangkaku belaka.
Tak ada kata lain sahabat. Mari kita bersatu padu untuk mencegah terjadinya praktek pembunuhan janin ini. Saya lebih suka menyebut pembunuh, daripada sekedar pelaku aborsi. Yuk, paling tidak mulai dari diri kita sendiri. Hindarilah, dan jauhilah dari perbuatan zina.
Karena zina memang menjadi biangkerok pembunuhan itu. JAGALAH putri2 tercinta kita terperosok dalam pergaulan bebas..!!

Maaf, kalau kata-kata saya pada kali ini terasa emosional. 
Tapi memang itulah kenyataannya.
Tidak terbayang, sebuah kekejian orang tua kepada anak kandungnya sendiri.
Na’udzubillahimindzalik.. 
Terimakasih telah membaca, sahabatku....

Kisah ini saya kopas dari salah satu catatan teman saya di facebook yang bernama RATNA AMALIA

Subscribe to receive free email updates: